Tampilkan postingan dengan label Teknologi tepat guna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi tepat guna. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Januari 2011

ALANG-ALANG (ILALANG)-2






1.
Judul : Jadikan alang-alang media tanam jamur
Sumber : Minggu Pagi, 4 Okt. 1996. Hal. VIII (dalam: Kumpulan kliping jamur merang. Jakarta, PIP Trubus, s.a. Hal. 15)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Jam
Abstrak : Pohon alang-alang (Imperata cylindrica) dapat dijadikan media tanam pada penanaman jamur merang. Hal yang perlu diperhatikan dalam cara pengelolaan alang-alang adalah, antara peralatan yang digunakan dengan skala usaha yang dilakukan harus disesuaikan. Selain itu alang-alang yang digunakan harus segar tanpa mengandung bahan-bahan herbisida.

2.
Judul : Memberantas alang-alang
Sumber : Teknologi desa, Hal. 51-52
Penerbitan : Jakarta: BUTSI, [s.a.]
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : A-1
Abstrak : Alang-alang sangat merugikan, merusak, dan menanduskan tanah, sehingga tanah tidak dapat menghasilkan sama sekali. Pemberantasan alang-alang ini dapat dilakukan dengan menanami pohon peneduh di sekitar alang-alang. Uraian singkat ini dilengkapi dengan gambar.

3.
Judul : Cara hemat dan efektif pengendalian alang-alang (Imperata cylindrica)
Sumber : Liptan, No. 02-1997/1998
Penerbitan : Palangka Raya: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Departemen Pertanian, 1998
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : H1-31
Abstrak : Herbisida yang cukup efektif untuk mengendalikan alang-alang adalah roundup yang dalam penerapannya dapat dicampur dengan urea. Didalam artikel ini dibahas mengenai keuntungan, dosis yang digunakan, dan cara pencampuran roundup dengan urea. Selanjutnya dibahas pula mengenai kalibrasi, cara dan penghematan biaya dalam penyemprotan roundup campuran pada alang-alang. Dengan pemberian roundup ini dapat menghemat biaya pemeliharaan tanaman sebesar 38.

4.
Judul : Penanaman kemiri di padang alang-alang
Sumber : Warta Penelitian Pengembangan Pertanian, (Sep.) 1981: 1 (dalam: Kumpulan kliping kemiri. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 20-21)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Kem
Abstrak : Artikel ini membahas mengenai usaha penanaman kemiri di padang alang-alang untuk menanggulangi lahan rawan. Dalam tulisan ini, dipaparkan pertimbangan pemilihan kemiri untuk memberantas alang-alang, kegunaan-kegunaan kemiri, dan cara penanamannya di padang alang-alang.

5.
Judul : Tanaman kemiri dapat menekan pertumbuhan alang-alang
Penulis : Sudarmonowati, Enny
Sumber : Suara Pembaruan, 16 Okt. 1991. Hal. X (dalam: Kumpulan kliping kemiri. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 1-2)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Kem
Abstrak : Artikel ini membahas pemanfaatan biji dan tanaman kemiri untuk penyedap makanan, obat-obatan, penerangan, dan menekan pertumbuhan alang-alang bila ditanam di lahan kosong. Dalam artikel ini dijelaskan pula cara-cara penanamannya.

6.
Judul : Pemanfaatan padang alang-alang
Sumber : Liptan, No.21/SR-RA/TAN/P2TP/INPPTP-PDG/95-96
Penerbitan : Padang: INPPTP Padang, Departemen Pertanian, [1996]
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : V2-302
Abstrak : Pembukaan lahan alang-alang secara tanpa olah tanah (TOT) dan olah tanah sederhana (OTS) bisa menghemat tenaga dan biaya serta mempertahankan kelestarian lahan dan meningkatkan kesuburan tanah. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembukaan padang alang-alang introduksi TOT dan OTS hanya memerlukan biaya 43 sampai dengan 82. Berikut ini dibahas tentang beberapa metode pelaksanaan pemanfaatan padang alang-alang antara lain; pengendalian alang-alang, pengolahan tanah, sistem tanam, penanaman, pengapuran dan pemupukan, pengendalian hama, pengendalian gulma, panen dan pembijian.


7.
Judul : Pengelolaan padang alang-alang untuk tanaman pangan
Sumber : Liptan, No. 8/SR/TAN/P2TP/IPPTP-PDG/96-97
Penerbitan : Padang: IPPTP Padang, Departemen Pertanian, 1997
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : V2-329
Abstrak : Padang alang-alang dapat dijadikan lahan tanaman pangan bila dikelola dengan baik. Dijelaskan dalam brosur ini pengolahan padang alang-alang yang terdiri dari pengendalian atau penekanan pertumbuhan alang-alang yang dapat dilakukan secara mekanis, serta secara kimia, pengolahan tanah dan perbaikan kesuburan tanah dengan menggunakan bahan organik dan kapur.

8.
Judul : Pola tanaman pangan pada lahan alang-alang
Sumber : Liptan, No.14/TAN/P2TP/IPPTP - PDG/1996 - 1997
Penerbitan : Padang: Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian,Departemen Pertanian, 1996
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : V2-287
Abstrak : Alang-alang merupakan tanaman kelompok gulma. Brosur ini membahas pemamfaatan padang alang-alang untuk usaha budi daya tanaman. Diuraikan pola tanaman setahun, persyaratan tumbuh tanaman pada lahan kering seperti iklim dan keadaan tanah, sifat morfologis dan fisiologis tanaman serta kesejateraan petani.

14.
Judul : Pengendalian terpadu alang-alang untuk budidaya kedelai
Penulis : Lamid,Zainal; Dt. Tambijo,A.
Penerbitan : Solok: Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukarami, 1995, hal. 73-79
Kode Panggil : 31
Abstrak : Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan cara pengendalian alang-alang yang efektif dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Delapan cara pengendalian alang-alang dikombinasikan dengan pengendalian gulma sebagai perlakuan disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Data menunjukkan bahwa penyiapan lahan alang-alang secara tebas-bakar-bajak 2 kali-garu diikuti aplikasi alachlor 2 HST cukup efektif menekan tumbuh kembali alang-alang dan gulma sekunder lainnya, sedangkan pengendalian terpadu alang-alang dengan cara bajak 2 kali-garu-alachlor atau butachlor harus diikuti dengan siang tangan 1 kali pada saat tanaman berumur 30 HST. Cara ini cukup efektif mengendalikan alang-alang pada pertanaman kedelai. Dan pemberian herbisida yang diikuti dengan siang tangan 1 kali pada saat tanaman berumur 30 hari sangat diperlukan bila lahan alang-alang dibajak 2 kali, cara ini memberikan hasil biji kering kedelai 10-34 lebih tinggi dari cara petani.

15.
Judul : Alang-Alang (Pasal 2)
Penulis : Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan & Balai Penelitian Bahan-Bahan
Penerbitan : Jakarta: Dep. Pekerjaan Umum c.q. Direktorat Jenderal cipta Karya, 1980, hal.2
Kode Panggil : 69
Abstrak : Alang-alang adalah sejenis rumput-rumputan (graminae) yang digunakan sebagai elemen bangunan sederhana (atap/dinding). Persyaratan untuk memenuhi standar bahan bangunannya adalah alang-alang harus mempunyai panjang minimum 1 m dan harus kering betul, berwarna kuning jerami kehijau-hijauan, dan tidak boleh berwarna coklat. Standar ketentuan dapat mengacu pada PUBI.1970 (N1-3). (Hus)

16.
Judul : Pengembangan jagung pada lahan alang-alang
Penulis : Ridwan
Sumber : Sinar Tani, 25 Agu. 1993. Hal. II (dalam: Kumpulan kliping jagung I. Jakarta, PIP Trubus, [s.a.]. Hal. 67-68)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Jag
Abstrak : Upaya untuk meningkatkan produksi jagung melalui ekstensifikasi, dapat dilakukan dengan penanaman jagung di lahan alang-alang. Walaupun kurang subur, dengan pengelolaan yang baik, produktivitas lahan dapat ditingkatkan. Pada artikel ini diuraikan prospek jagung yang ditanam di lahan alang-alang serta pola tanam yang dianjurkan.

Dokumen lengkap, hubungi:
PDII-LIPI
Telp. 021-7560537
E-mail: pdiiserpong@yahoo.com

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

Selasa, 21 Desember 2010

PINANG (Areca catechu) - 2


Home Study Course. Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar dari Affiliate Marketing. Download PDF dan VIDEO GRATIS.

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

1.
Judul : Tanaman yang bunga, biji dan buahnya berkhasiat obat
Sumber : Budidaya tanaman berkhasiat obat : meningkatkan apotik hidup dan pendapatan para keluarga petani dan pkk, Kartasapoetra, G., Hal. 34-50
Penerbitan : Jakarta: Rineka Cipta, 1992
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : A1-7
Abstrak : Aspek yang dibicarakan adalah keterangan masing-masing tanaman yang berkhasiat obat antara lain famili tanaman, sifat-sifat yang dimiliki, uraian makroskopiknya, kandungan zat kimia, serta khasiat pengobatan terhadap penyakit disertai keterangan dosis yang tepat.

2.
Judul : Tanaman berakhasiat obat
Sumber : Toga 2 tanaman obat keluarga: penyembuhan cacingan, demam, mencret, TBC, Budi Santoso, Hironymus, Hal. 36-90
Penerbitan : Yogyakarta: Kanisius, 1998
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Tan
Abstrak : Diuraikan secara rinci nama tanaman, syarat ampuh, pedoman bertanam, kandungan kimia, dan khasiat tanaman. Tanaman tersebut antara lain: bawang merah, bawang putih, delima, jambu biji, daun kaki kuda, daun keji beling, kelapa hijau, kembang sepatu, lempuyang wangi, nanas, pepaya, pinang, sambiloto, sirih, temu giring dan temu lawak

3.
Judul : Pembibitan pinang
Penerbitan : Sukarami: BPTP Sukarami, Departemen Pertanian, 1998
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : S-6
Abstrak : Berdasarkan bentuk dan perawakannya, pinang termasuk dalam suku Arecaceae yang terbagi lagi dalam beberapa jenis, yaitu: pinang biru, pinang hitam, pinang irian, pinang kelapa, pinang merah, pinang kera, pinang tutul, pinang jawa, dan pinang sirih. Dari kesemua jenis pinang tersebut, pinang sirihlah yang paling populer sehingga banyak dimanfaatkan untuk tujuan komersial oleh masyarakat.

4.
Judul : Bahan tanaman [Pinang]
Sumber : Pembibitan pinang, Hal. 8-11
Penerbitan : Sukarami: BPTP Sukarami, Departemen Pertanian, 1998
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : S-6
Abstrak : Untuk mendapatkan bibit yang baik, bahan tanaman harus memenuhi persyaratan teknis. Bahan tanaman tersebut meliputi pohon induk dan benih. Pohon induk yang baik harus mempunyai karakter dengan hertabilitas tinggi, seperti: berbunga awal, produksi telah stabil dan berproduksi tinggi. Dari pohon yang telah terseleksi tadi, diambil calon benih yang memenuhi persyaratan teknis antara lain: masak penuh, ukuran besar dan berat, serta posisi buah vertikal.

5.
Judul : Pembibitan [Pinang]
Sumber : Pembibitan pinang, Hal. 13-18
Penerbitan : Sukarami: BPTP Sukarami, Departemen Pertanian, 1998
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : S-6
Abstrak : Ada dua hal yang dibahas dalam tulisan ini, yaitu: perkecambahan dan seleksi kecambah serta pembibitan dan seleksi bibit. Perkecambahan dapat dilakukan dengan menggunakan bedengan khusus/bak pendederan atau langsung dilakukan di lapangan. Sedangkan dalam pembibitan dijelaskan bahwa hasil seleksi kecambah dapat dipindahkan ke polybag atau langsung di lapangan.

6.
Judul : Pelaksanaan gelar teknologi [Pembibitan pinang]
Sumber : Pembibitan pinang, Hal. 19-21
Penerbitan : Sukarami: BPTP Sukarami, Departemen Pertanian, 1998
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : S-6
Abstrak : Dalam tulisan ini dibahas tentang tempat pelaksanaan, lokasi yang digunakan, jenis pinang yang dipakai, serta kegiatan yang dilakukan pada gelar paket teknologi (meliputi seleksi pohon induk, seleksi buah dan calon benih, bedengan perkecambahan, dan pembibitan).

7.
Judul : Analisa usaha tani [Pembibitan pinang]
Sumber : Pembibitan pinang, Hal. 19-21
Penerbitan : Sukarami: BPTP Sukarami, Departemen Pertanian, 1998
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : S-6
Abstrak : Dalam tulisan ini dibahas tentang analisa usaha tani gelar teknologi pembibitan pinang yang dilakukan di desa Pucuang Anam, Kecamatan perwakilan Kabun Pondok Dua, Kabupaten Padang Pariaman, pada bulan Januari 1998.

8.
Judul : Petunjuk pelaksanaan seleksi pohon induk [Lontar, Aren dan Pinang]
Sumber : Terbitan Khusus, No. 031/VIII/1989
Penerbitan : Manado: BALITKA, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1989
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Z2-3
Abstrak : Tanaman lontar, aren, dan pinang menghasilkan produk yang berpeluang besar untuk dipasarkan di dalam dan luar negeri. Langkah awal untuk mengembangkan ketiga tanaman tersebut adalah dengan memperoleh benih yang baik yang berasal dari pohon yang baik pula. Artikel ini menerangkan secara rinci petunjuk pelaksanaan seleksi pohon induk lontar, aren, dan pinang, sebagai sumber benih. Disertakan pula cara menghitung koefisien keragamanan untuk menentukan seleksi blok penghasil tinggi.

9.
Judul : Cantiknya pinang kuning
Penulis : Suyatno
Sumber : Suara Karya, 21 Okt. 1992. Hal. VII (dalam: Kumpulan kliping palem. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 60)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pal
Abstrak : Palem kuning atau Pinanga patula yang mempunyai batang. pelepah, lidi, anak dan akar berwarna kuning berasal dari Semenanjung Malaysia. Diuraikan bahwa perbanyakanan tanaman dengan cara generatif/biji membutuhkan waktu yang lama. Dengan cara pemisahan anak-anak akan mempercepat perbanyakan, meski mempunyai risiko tinggi dan memerlukan perhatian khusus. Palem ini cukup menjanjikan dengan keuntungan yang cukup menggiurkan.

10.
Judul : Pinang merah, tanaman hias tercantik yang kian populer
Penulis : Sastromidjojo, Bambang Hardiantono
Sumber : Suara Karya, 5 Nov. 1986. Hal. VIII (dalam: Kumpulan kliping palem. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 61-62)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pal
Abstrak : Tanaman pinang merah yang cantik dan populer ada 2 jenis yaitu Cyrtostachys lakka dan Cyrtostachys renda. Ditemukan tahun 1833 serta populer sampai Afrika dan Amerika. Diuraikan tentang kekhasan tanaman ini, cara budidayanya, serta pemberantasan hama serta penyakit.

11.
Judul : Biji pinang bisa usir cacing pita
Penulis : Khara, S.
Sumber : Minggu Pagi, 3 Sep. 1989. Hal. VIII (dalam: Kumpulan kliping tanaman obat III. Jakarta, PIP Trubus, [s.a.]. Hal. 87)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Tan
Abstrak : Buah pinang dengan nama ilmiah Areca catechu, selama ini identik dengan wanita, terutama pemakan sirih. Pada kenyataannya buah pinang dapat digunakan sebagai obat untuk menghilangkan cacing pita. Bagian yang berkhasiat adalah bijinya, yang mengandung orecoline dan dapat diperoleh dengan cara diperas daging bijinya. Tulisan dilengkapi dengan cara pembuatan ramuan.

12.
Judul : Mempersunting Aneka Jenis Palem untuk Pengindah Lingkungan
Penulis : -
Penerbitan : Jakarta: Pusat Informasi Pertanian Trubus, 1994,hlm.109
Kode Panggil : 58
Abstrak : Terdapat 2800 jenis palem di berbagai penjuru dunia, tetapi hanya sedikit yang sudah dibudidayakan dengan nilai pasaran cukup tinggi, selebihnya masih perlu diseleksi untuk dikembangkan serta dilestarikan.
Sedikitnya terdapat 42 jenis palem yang merambah pasaran tanaman hias, diantaranya jenis palem liar yang memiliki prospek seperti pinang tutul, pinang merah dan palem waregu.. Tiga jenis palem paling top adalah palem botol,segitiga hijau dan palem merah.Harganya rata-rata mahal, ini dipengaruhi oleh penampilan/sosok tanaman yang memang menawan juga karena termasuk jenis langka. Dngan mempersunting aneka jenis palem yang cocok, lingkungan menjadi bersih,nyaman,megah dan indah. Palem dapat diperbanyak dengan biji ataupun membelah rumpun atau anaknya. Perbanyakan cara biji memerlukan perhatian dan teknik khusus serta kesabaran tinggi.

13.
Judul : Pinang Biru
Penulis : Sastrapradja, Setijati; Mogla, Johanes Pakar; Sangat, Harini Murni
Penerbitan : Bogor: Lembaga Biologi Nasional, 1978, Hal. 63
Kode Panggil : 58
Abstrak : Pinang biru berasal dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Tumbuh baik pada tempat-tempat yang tidak langsung kena sinar matahai pada ketinggian antara 50-1000 m dpl. Pinang biru tumbuhnya tunggal, berbatang lurus dan kecil. Tingginya hanya mencapai 4 m. Seperti pinag pada umumnya pinang jenis ini berdaun sirip. Pelepah daunnya berbentuk seludang berwarna merah sampai coklat. Tangkai daunnya berwarna ungu kebiru-biruan, karenanya disebut pinang biru. Perbungaannya berbentuk tandan, menggantung dengan tangkai tandan berwarna merah. Buah yang masak hitam warnanya dan berbiji tunggal. Di alam peremajaan terjadi melalui bijinya.

14.
Judul : Pinang Merah
Penulis : Sastrapradja, Setijati; Mogla, Jahanes Pakar; Sangat, MArini Murni
Penerbitan : Bogor: Lembaga Biologi Nasional, 1978, Hal. 75
Kode Panggil : 58
Abstrak : Pinang merah merupakan tumbuhan asli KAlimantan BArat, Sarawak dan emenanjung Malayu. Dalam keadaan liar, tumbuhan ini sering dijumpai di hutan-hutan rawa dataran rendah sampai pada ketinggian 500 m dpl.Batangnya sendiri tidak besar, sehinggapalem inikelihatannya tinggi semampai. Tumbuhnya berumpun, berbatang lurus yang tingginya 6-14 m. Daunnya bersirip agak melengkung, anak-anak daunnya agak kaku. Pelepah daunnya berbentuk seludang dan berwarna merah. Pinang merah diperbanyak melalui bijinya. Biji tersebut mulai berkecambah setelah berumur 2-3 bulan. Didapat keterangan bahwa tanaman yang dapat mencapai dewasa, biasanya sedikit sekali (kurang lebih 5 ).

15.
Judul : Pinag Tutul
Penulis : Sastrapradja,Setijati; Mogla, Johanes Pakar; Sangat, Harini Murni
Penerbitan : Bogor: Lembaga Biologi Nasional, 1978, Hal. 81
Kode Panggil : 58
Abstrak : Palem ini disebut pinang tutul karena anak-anak daunnya sering mempunyai bercak-bercak hijau tua seperti tutul. Tutul-tutul tsb membuat warna daun palem lebih indah.Pinang tutul tumbuh secara alami di Sumatera. Umumnya dijujmpai di Aceh dan Bengkulu. Tumbuhan ini menyukai tempat yang agak basah. Biasanya menyenangi daerah dekat aliran sunghai, pada ketinggian antara 300-800 m dpl. Pinang tutul tumbuhnya berumpun dengan tinggi 4 m. Pada anak daun yang muda terdapat bercak-bercak hijau tua, dan akhirnya menghilang pada daun yang tua. Perbungaannya berbentuk malai, menggantung. Buahnya berwarna merah jambu. Peremajaan pinang tutul dilakukan melalui bijinya.

16.
Judul : PinangSirih
Penulis : Sastrapradja, Setijati et.al.
Penerbitan : Bogor: Lembaga Biologi Nasional-LIPI, 1978, Hal. 79
Kode Panggil : 58
Abstrak : Pinang Sirih diduga berasal dari Filipina. Jenis ini dapat tumbuh sampai pada ketinggian 750 m dpl.m Keanekaragamannya dapat dilihat dari warna buah, maupun kandungan kimianya. Pinang sirih berbatang lurus dan agak licin. Tingginya rata-rata 10 m, berdaun sirip agak melengkung. Pelepah daunnya berbentuk seludang. Bunganya tersusun dalam suatu bulir. Bunga betina terletak di bagian pangkal, sedangkan jantannya di bagian ujung. Selain untuk menyirih, endosperma buah tanaman ini dipakai untuk bahan pernis. Umbut batangnya dapat digunakan untuk campuran ramuan obat-obatan.

17.
Judul : Karakteristik sifat-sifat tanaman pinang didaerah Istimewa Aceh dan Kalimantan Selatan (Aseca catcchu)
Penulis : Miftahorrachman; Pandin Donata S.; Novarianto H.
Sumber : J. Panel. Kelapa, 3 (2) 1989: 32 (dalam kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 1-12
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tanaman pinang memiliki keragaman karakter yang cukup bebesar, antara lain tinggi tanaman, jumlah bekas daun,panjang petiole, jumlah tandan, jumlah spekelet, dan jumlah buah. Karakter-karakter yang memiliki korelasi dengan jumlah buah adalah panjang infloresensia, jumlah tandan, dan jumlah spikelet.

Temukan Blueprint Rahasia untuk Meraih Ribuan Dollar melalui Affiliate Marketing

18.
Judul : Biji pinang sangat bermanfaat untuk membasmi cacing pita
Penulis : Lukman
Sumber : Pikiran Rakyat, 11 Agu. 1994. Hal. 8 (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta PIP Trubus 1994. Hal. 13)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Biji pinang (Areca catechu) berguna untuk menyirih dan membasmi cacing pita. Biji pinang mengandung "arecoline" minyak yang bersifat racun bagi cacing pitang. Dalam tulisan ini diulas mengenai cara mengobati gejala dan penyakit cacingan berikut resep untuk menyembuhkannya.

19.
Judul : Pinang menumpas cacing pita
Penulis : Priohusodo, Lestari
Sumber : Trubus, (Jul) 1989: 20 (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIPI Trubus, 1994. Hal. 14-15
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Biji pinang (Areca catechu) dari keluarga palmae yang mengandung arekoline (minyak bias keras),mampu melepaskan senyawaan asetil-choline yang beredar dalam tubuh kita ternyata bersifat racun bagi cacing pita. Cara mengobati cacing dengan ramuan biji pinang diulas dalam tulisan ini berikut khasiat lain biji pinang.

20.
Judul : Mengnal manfaat lain pinang
Penulis : Iswariyanto
Sumber : Minggu padi, Minggu, Mar 1990. VIII (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIPI Trubus, 1994, Hal. 16-17
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Dengan makin berkembangnya zaman, pohon pinang ternyata tidak hanya bermanfaat untuk keperluan makan sirih saja, tetapi juga untuk campurana bahan dasar industri pernis. Kosmetika pewarna batik, dan sebagai campuran industri pembuatan obat-obatan. Pohon pinang juga mempunyai manfaat sebagai pelengkap tanaman hias di halaman rumah, perkantoran, pabrik, dan ditepi-tepi jalan

21.
Judul : Pengaruh pemangkasan akar terhadap pertumbuhan bibit pinang
Penulis : Miftahorrahman
Sumber : Bul. Balitka, (20) 1993: 81 (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 18-25
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pemangkasan akar berpengaruh baik terhadap pertumbuhan bibit pinang. Pengaruh tersebut nyata pada hampir semua karakter bibit yang diamati, yaitu tinggi bibit, lingkar batang, panjang daun, luas daun, berat basah akar, dan bagian atas tanaman, volume basah akar dan bagian ataws tanaman, volume basah akar dan bagian atas tanaman, kKecuali jumlah daun. Perlakuan yang terbaik adalah pemangkasan akar disebut 75 persen

22.
Judul : Bertanam pinang dan kegunaannya
Penulis : Anna
Sumber : Tumbuh, (Mar.) 1991: 35 (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Tubus, 1994. Hal. 26-27
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Pohon pinang banyak tumbuh di kebun-kebun, pinggir sungai, pematang sawah, dan sebagainya. Selain banyak fungsinya, buah pinang merupakan salah komoditas perdagangan yang cukup tinggi. Artikel mengemukakan buah pinang sebagai tanaman obat dan perkembangbiakkannya (pembibitan, penanaman, pemeliharaan).

23.
Judul : Pengembangan buah pinang masih tetap berprospek luas
Penulis : Lukman
Sumber : Pikiran Rakyat, 11 Agu. 1990. Hal. X (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 28-30)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Luas perkebunan buah pinang di Indonesia selalu meningkat, walaupun baru 15 propinsi di Indonesia yang memiliki perkebunan pinang. Melihat prospek harga yang cukup cerah dan pasarannya yang cukup luas maka komoditi pinang perlu mendapat perhatian untuk dibudidayakan dengan pengelolaan sungguh-sungguh.

24.
Judul : Pengaruh cara ekstrksi dan ukuran buah terhadap kadar tanin buah pinang.
Penulis : Rumakoi, Margaretha M.M.
Sumber : J. Penelit. Kelapa, 5 (2) 1992: 13 (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 31-34)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Hasil penelitian mengungkapkan cara ekstraksi tanin dari buah pinang menggunakan alkohol menghasilkna kadar tanin yang lebih tinggi dari cara ekstraksi menggunakan air. Ukuran buah pinang mempengaruhi kadar tanin buah pinang. Makin besar buah pinang makin tinggi kadar ekstrak dan tanin.

25.
Judul : Peluang mata daagang ekspor pinang
Penulis : Rukmana, Rahmat
Sumber : Neraca, 20 Sep. 1991. Hal. VI (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Trubus, 1994, Hal. 35-36)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Pinang di Indonesia memiliki prospek yang baik dimasa yang akan datang, sebab selain sebagai komoditi agribisnis dan agro industri, juga berpeluang sebagai tanaman agrowisata.
Dalam tulisan ini diuraikan peluang bisnis, profil botanis, budidaya, dan produktivitas pinang. Disertakan tabel luas artikel perkebunan pinang, produksi, volume dan nilai ekspor tahun 1984-89 di Indonesia.

26.
Judul : Tanaman pinang ladang bisnis yang menguntungkan
Penulis : Suntoro, Eddy
Sumber : Neraca, 24 Sep. 1991. Hal. VII (dalam: Kumpulan kliping pinang Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 37-38
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : PIN
Abstrak : Tanaman pinang sudah terkenal di pelosok tanah air dan mulai dikembangkan di daerah-daerah. Selain buah dan biji pinang, ternyata batang pohon pinang pun dapat dijual. Pengembangan budidaya tanaman ini kurang diperhatikan, sehingga posisi Indonesia sebagai negara pengekspor tergeser oleh negara lain. Pinang ternyata dapat mendatangkan devisa bagi negara dari ekspornya, volume ekspor th 1984-1989 naik dari 7.502,427 kg menjadi 10.962.163 kg.

27.
Judul : Komoditi perkebunan
Sumber : Komoditi ekspor pertanian: tanaman perkebunan rempah dan obat, Nazaruddin, Hal. 13-67
Penerbitan : Jakarta: Penebar Swadaya, 1993
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Tan
Abstrak : Komoditi perkebunan merupakan satu di antara komoditi ekspor Indonesia dan menghasilkan devisa yang mengalahkan komoditi non migas lainnya. Dalam bab ini diuraikan tentang kegunaan dan bentuk, gambaran ekspor dan prospeknya, standar mutu, daftar alamat eksportir dan importir dari masing-masing komoditi. Komoditi yang dibahas adalah kakao, karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, panili, tebu, teh, tembakau, aren, jambu mete, jarak, dan pinang.

28.
Judul : Areca vestiarica Giseke, palem centik dari Sulawesi Utara
Penulis : Pangemanan, Lilis
Sumber : Warta Iptek, (17) 1997: 15-18
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Maj-993
Abstrak : Pinang yaki atau Areca vestiara merupakan jenis palem yang berpenampilan sangat unik, cantik, dan menawan. Dijelaskan sifat botanik dan ekologi, serta perbanyakan tumbuhan, baik dengan biji, benih, maupun dengan anakan.

29.
Judul : Pinang mulai diekspor
Penulis : Ekowaty, Maudy
Sumber : Trubus, (Mar) 1992: 24 (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 39-42)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Pinang sejak lama digunakan dalam berbagai upacara adat, sebagai teman makan sirih, dan beberapa khasiat lain. Bila dulu pinang merupakan komoditiyang tidak diperhitungkan, namun kini termasuk dalam deretan komoditi pertanian yang diekspor. Artikel menguraikan prospek pinang, ekspor Indonesia, syarat mutu, dan kendala yang ada dalam mengekspor pinang.

30.
Judul : Ekspor pinang meningkat dengan harga jual yang masih belum naik.
Sumber : Busines News, 16 (Okt) 1992. Hal. 9 (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 43-46)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Artikel menggambarkan perkembangan ekspor pinang selama tahun 1989-1992. Dari perkembangan tersebut terlihat bahwa ada peningkatan volume maupun nilai dan diperkirakan memuncak pada tahun 1992. Sementara jika dilihat negara tujuan pada tahun yang sama terlihat bahwa Pakistan semakin meningkatkan pembeliannya. Jika dilihat dari ekspor pinang melalui pelabuhan, maka terminal utama adalah Belawan.

31.
Judul : Singapura minta pinang bali 120 ton per bulan: Bali baru bisa sediakan 15 ton.
Sumber : Suara Karya, Jan 1985. Hal. 3 (dalam, Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 56)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Buah pinang kini diminati Hongkong dari Singapura untuk bahan baku kosmetika dan obat-obatan tradisional. Yang menjadi masalah dalam pemasaran komoditi ini adalah belum adanya persesuaian harga antara pembeli dan penjual.

32.
Judul : Sumatra Utara kembali rajai ekspor pinang.
Sumber : Sinar Indonesia Baru, 22 Jan. 1987. Hal. VIII (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 58)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Sumatera Utara dalam tahun 50-an pernah mendominasi pasaran ekspor pinang ke Malaysia dan Asia Selatan. Dewasa ini, Medan kembali menguasai pasaran ekspor komoditi tersebut dengan mutu paling baik dan harga bersaing. Untuk memperoleh biji pinang di kampung-kampung, dilakukan sistem koperasi.

33.
Judul : Sistem pemasaran pinang di Aceh
Penulis : Hasni, Husein; Djafar, M.
Sumber : J. Penelit. Kelapa, 4 (1) 1989: 49 (dalam: Kumpulan kliping pinang. Jakarta, PIP Trubus, 1994. Hal. 59-66)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Pin
Abstrak : Pinang dipasarkan dalam bentuk biji kering, memiliki prospek yang cerah dengan peningkatan nilai ekspor sebesar 25,10persen setiap tahun.
Areal tanaman pinang 1978 - 1987 meningkat 2,29 persen sedangkan produksi menurun 2,20 persen/tahun. Harga yang diterima petani produsen sangat rendah, hanya 46 persen dari harga yang diterima ekportir. Hal ini disebabkan panjangnya rantai tataniaga pinang sehingga informasi pasar sukar diketahui petani produsen. Hal ini menggambarkan bahwa pemasaran pinang belum efisien.

Dokumen lengkap dapat dipesan melalui:

PDII-LIPI

Telp. 021-7560537

E-mail: pdiiserpong@yahoo.com


Rabu, 21 April 2010

Budidaya lele

1.
Judul : Petunjuk praktis budidaya lele dumbo dan lokal
Penulis : Budi Santoso
Penerbitan : Yogyakarta: Kanisius, 1994
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Lele dumbo pantas dijuluki Sibongsor, karena kespektakuler pertumbuhannya dibandingkan lele lokal. Dari hasil uji coba, terlihat bahwa lele dumbo dapat mencapai berat 180 - 200 g/ekor, sedangkan lele lokal 40 - 50 g/ekor. Buku ini memperkenalkan kedua jenis lele tersebut di atas lengkap dengan pemijahannya, cara membesarkan, penyakit dan penanggulangannya, serta cara mempertahankan mutu ikan tersebut.

2.
Judul : Memijahkan lele sendiri.
Sumber : Petunjuk praktis budidaya lele dumbo dan lokal, Budi Santoso, Hal.54-64
Penerbitan : Yogyakarta: Kanisius, 1994
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Pada bab ini diuraikan liku-liku pemijahan lele sistem pasangan mulai dari persiapan tempat sampai pencegahan kematian benih saat kritis.

3.
Judul : Memanfaatkan peceren untuk pelihara lele
Sumber : Sinar Tani, 13 Nov. 1993 Hal. V (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 94)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Artikel ini menguraikan pemanfaatan halaman pekarangan dan peceren untuk memelihara lele. Bentuk kolam, penyebaran benih dan pemberian pakan diuraikan secara singkat.

4.
Judul : Pendederan benih lele dumbo sistem jemur
Penulis : Sutai
Sumber : Sinar Tani, 21 Agu. 1993, Hal.V (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 49)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Diuraikan secara ringkas cara pendederan benih lele dumbo sistem jemur. Sistem ini selain untuk menghemat biaya, juga nerupakan pengobatan bagi lele yang terserang penyakit.
Untuk itu perlu mempersiapkan kolam pengeringan dan pakan tambahan untuk menunjang pertumbuhan.

5.
Judul : Memelihara ikan lele di kecomberan
Penerbitan : Padang: Balai Informasi Pertanian, 1979
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : T1-1
Abstrak : Artikel ini menjelaskan tentang pemeliharaan ikan lele, dijelaskan pula jenis ikan lele, manfaat dan kandungan gizinya. Kemudian mengenai pembuatan kolam, bibit, makanan, ciri-ciri jantan dan pria, pemeliharaannya serta masa panen (6 bulan sejak disebarkan) dan hasilnya.

6.
Judul : Budidaya lele secara intensif
Sumber : Liptan, No. 05/1987
Penerbitan : Yogyakarta: PIP Yogyakarta, Departemen Pertanian, 1987
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : T1-28
Abstrak : Brosur ini menguraikan mengenai budidaya ikan lele secara intensif yang terdiri dari konstruksi kolam, persiapan kolam, penebaran benih, makanan dan panen. Diuraikan pula tentang pencegahan penyakit (jenis protozoa, bacteri dan parasit).

7.
Judul : Budidaya ikan lele dumbo
Sumber : Liptan, No. 03/KAN/ER/DIPDA/BIP-SB/88-89
Penerbitan : Padang: BIP Padang, Departemen Pertanian, 1988-1989
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : T1-29
Abstrak : Pada brosur ini diuraikan tentang ciri-ciri dan sifat-sifat lele dumbo. Dijelaskan tentang teknik budidaya lele dumbo yang terdiri dari: persiapan kolam, pemijahan induk, penebaran benih, makanan dan panen.

8.
Judul : Memelihara lele dengan drum bekas aspal
Penulis : Wahyono
Sumber : Kedaulatan Rakyat, 16 Okt. 1995. Hal. 9 (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993 Hal.96-97)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Memelihara lele dengan drum bekas aspal, minyak tanah, dan kelapa dibahas dalam artikel ini. Diuraikan cara menghilangkan bau drum, pemilihan bibit ikan lele, pemberian makanan yang pada akhirnya dalam waktu 4 bulan dapat dipanen, meski keuntungan tipis bila menggunakan drum saja.

9.
Judul : Beternak lele dumbo
Sumber : Buku praktis teknologi tepatguna dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan, Hal. 62-69
Penerbitan : Subang[Jawa Barat]: Kantor Pembangunan Masyarakat Desa, 1996
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : C2-10
Abstrak : Ikan lele dumbo adalah salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani. Bab ini membahas beternak lele dumbo secara sederhana dan panen dalam waktu singkat dengan hasil cukup memuaskan. Untuk itu perlu diperhatikan manfaat beternak lele dumbo, sifat lele dumbo, peralatan, bahan, langkah-langkah beternak dan pemeliharaan serta panen atau hasil produksi lele dumbo.

10.
Judul : Budidaya ikan lele
Penulis : -
Sumber : Liptan, No. 166/BIP/1994-1995
Penerbitan : Jambi: BIP, Departemen Pertanian, Des. 1994
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : T1-77
Abstrak : Ikan lele (Clarias batrachus) selain dapat hidup di sungai, waduk, rawa parit, maupun genangan air lainnya, juga baik sekali dibudidayakan dikolam. Keberhasilan usaha budidaya ikan lele selain ditentukan oleh tersedianya benih lele yang baik juga oleh pemberian pakan yang baik dan cukup, kontruksi kolam yang benar, usaha pengendalian hama dan penyakit serta harus didukung pengetahuan teknis dan kemampuan untuk mengelolanya. Dalam brosur ini diuraikan secara singkat mengenai tahap-tahap budidaya ikan lele, yakni (kolam, persiapan kolam, penebaran benih dan makanan), pencegahan penyakit (protozoa, parasit, dan bakteri)serta panen. Dilengkapi dengan ciri-ciri ikan lele, gambar dan tabel perbedaan lele jantan dan betina.

11.
Judul : Pembenihan ikan lele
Penulis : -
Sumber : Liptan, No. 10/IS dan SR/1993-1994
Penerbitan : Aceh: BIP, Departemen Pertanian, 1993
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : T1-78
Abstrak : Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang dapat dipelihara di kolam yang sempit, sawah bahkan di comberan rumah. Pertumbuhan ikan lele cukup cepat dengan daya tahan yang tinggi serta mudah sekali berkembang biak diberbagai lokasi pemeliharaan. Salah satu hambatan yang dirasakan petani di pedesaan adalah kurangnya persediaan benih yang bermutu dan dalam jumlah yang cukup. Petani masih mengandalkan kebutuhan benih ikan lele dari usaha penangkapan alam padahal pembenihan ikan lele dapat dilakukan sendiri. Petunjuk singkat ini menyajikan teknik pembenihan ikan lele untuk kalangan petani yang mencakup; pembuatan dan kontruksi kolam, persiapan kolam dan induk jantan maupun betina, pemijahan, penyapihan serta penanggulangan hama penyakit. Dilengkapi dengan beberapa gambar dari setiap tahap pembenihan.

12.
Judul : Teknik pembenihan lele secara hypopisasi
Penulis : Sianturi, Sotar Donald
Sumber : Bull. PMMR, Vol. XVIII (1998) 79
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Maj-188
Abstrak : Artikel menjelaskan 2 cara pembenihan ikan lele. Pertama dengan cara alami yaitu perkawinan antara lele jantan dan betina yang terdiri dari pembuatan bak/kolam, persiapan bak, pemasukan induk dan proses pemijahan. Kedua adalah teknik pembenihan secara hypopisasi yang terdiri dari persiapan induk, pengambilan kelenjar hypopisa, penyuntikan, serta proses pemijahan.

13.
Judul : Budidaya lele dumbo di lahan kering (model Gunung Kidul)
Penulis : Hastuti, M.S.
Sumber : Bul. PMMR, 17 (74) 1997: 12-14
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Maj-329
Abstrak : Di Gunung Kidul dengan lahannya yang tandus, telah dicoba membudidayakan lele dumbo. Diuraikan dalam artikel ini budidaya lele dumbo di lahan kering meliputi penyiapan lahan, pemupukan, kolam, pembibitan, kebutuhan air kolam, tenaga kerja, pemeliharaan, dan pemanenan.
Biasanya budidaya lele dumbo siap dipasarkan dalam waktu 2-3 bulan.

14.
Judul : Budidaya ikan lele
Penulis : Munir
Sumber : Ayam dan Telur, (52) 1991: 52 (dalam: Kumpulan kliping lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 43-49)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Ikan lele sudah lama dikenal orang sebagai ikan liar yang hidup di sungai, selokan, parit, air tergenang, rawa, dan kolam pemeliharaan. Di dalam artikel ini diuraikan jenis dan ciri-ciri lele, pengenalan lele, perkembangbiakan secara alami dan buatan, pengetahuan tentang hama dan penyakit lele, serta pencegahan atau penyembuhan. Dipaparkan pada cara pemijahan ikan lele dengan cara kawin suntik.

15.
Judul : Budidaya: pembesaran ikan lele
Penulis : Budy Santoso
Sumber : Ayam dan Telur, (33) 1988: 44 (dalam: Kumpulan kliping lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 50-52)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang mudah dibudidayakan di kolam pekarangan atau non pekarangan. Artikel menguraikan menganai aspek-aspek budidaya ikan lele, meliputi cara pemeliharaan, pemberian pakan, penebaran, penganalisa.
Aspek ekonominya juga dikemukakan, meliputi biaya pembuatan kolam, pembelian alat-alat, biaya sarana produksi, dan penjualan lele.

16.
Judul : Budidaya lele lokal
Penulis : Anita
Sumber : Tumbuh, (Mei) 1993: 38 (dalam: Kumpulan kliping lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 53-54)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Lele lokal akan banyak manfaatnya apabila mampu membudidayakannya sendiri. Artikel membahas tahap pembudidayaan seperti pemberian kapur dan pupuk pada kolam, penyiapan benih, pemberian pakan, pemanenan, dan pemasaran lele. Cara ini bisa diterapkan pada budidaya lele dumbo perumnas.

17.
Judul : Budidaya ikan lele
Penulis : Setyawati, Rosyda
Sumber : Bull. PMMR, ed. khusus HPS ke-15
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Maj-252
Abstrak : Ikan lele (Clarias batrachus L.) memiliki nilai gizi dan ekonomi tinggi. Budidaya ikan lele dapat dilakukan di kolam atau tambak dengan teknik budidaya yang mudah. Kolam yang dipergunakan dapat berupa kolam tanah atau kolam tembok, serta berbentuk empat persegipanjang dengan ukuran kolam yang bervariasi tergantung kondisi tempat. Dijelaskan mengenai teknis pelaksanaannya, pemungutan hasil, serta pencegahan penyakit dengan larutan formalin.

18.
Judul : Pemeliharaan Ikan Lele
Penerbitan : Lembang: Departemen Pertanian, 1984, Hal. 9-14
Kode Panggil : 63
Abstrak : Sebelum pembenihsn ikan lele dimulai, perlu dilakukan persiapan kolam pembenihan yaitu pengeringan dan perbaikan pematang, pengapuran dengan ukuran 25-200 gr/m persegi, pemupukan dengan pupuk kandang 500-700 gr/m persegi. Sedangkan ukuran dan konstruksi kolam pembenihan yaitu bentuk 4 persegi panjang, ukurannya 25-200 m persegi, dinding pematang sebaiknya dityembok atau dapat juga dengan batu atau batta merah, kedalaman kolam 0,5-1,5 m dengan dasar berlumpur, dan pipa pemasukan air terletak di atas permukaan air, sedangkan pengeluaran terletak di bawah, sebaiknya berbentuk monik kecil, serta kotak-kotak penelusuran dibuat sepanjang pematang kolam dengan jarak antara satu dengan lainnya kurang lebih 1 m. Cara pewmijahan ikan lele yaiu setelah kolam diari selama 5-7 hari, baru pemijahan dilaksanakan yaitu masukkanlah atau sebarkan induk-induk lele yang telah disediakan ke dalam kolam, jumlah induk lele (betina dan jantan) sama dengan banyaknya kotak peneluran yang sudah disiapkan.

19.
Judul : Mengatasi luka pada tubuh lele

Sumber : Minggu Pagi, Minggu ke-3 Jan. 1995. Hal.VIII (dalam: Kumpulan kliping ikan lele, Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 92)

Lokasi Artikel : TTG

Kode Panggil : Lel

Abstrak : Artiekl menjelaskan 2 jenis penyakit lele, yaitu bakterial aeromonas sp dengan tanda umum tubuh melepuh, perut mengembung dan luka busuk pada permukaan tubuh. Sedangkan penyakit yang disebabkan oleh protozoa menyerang insang tanpa gejala sama sekali. Usaha pencegahan kedua penyakit dilakukan penyiapan dengan membuat sirkulasi air kolam, merendam benih dengan air gula, memberi makanan bergizi, dan vaksinasi.

20.
Judul : Upaya penanggulangan penyakit bakterial pada ikan lele
Sumber : Sinar Tani, 28 Agu. 1993. Hal. V (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 117-118)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Artikel ini menguraikan upaya penanggulangan penyakit bakterial pada ikan lele, yaitu dengan melihat tanda-tanda terserang bakteri, cara penanggulangan penyakit baik pencegahan maupun pengobatan, serta pengobatannya diusahakan di kolam pemeliharaan.

21.
Judul : Limbah pemotongan ayam makanan bergizi lele dumbo
Sumber : Minggu Pagi, 4 Okt. 1992. Hal. VIII (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 128)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Limbah pemotongan ayam merupakan makanan bergizi bagi lele dumbo. Selama ini makanan lele dumbo kebanyakan berupa pelet yang merupakan campuran tepung ikan, tepung darah, tepung kedelai, kaldu, premiks mineral ketel, tepung terigu, daun, dan premiks vitamin.

22.
Judul : Lele siap memasuki sistem agrobisnis
Sumber : Minggu Pagi, Minggu ke-4 Nop. 1994. Hal. 8 (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 150-151)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Dalam Sarasehan Peternak lele di Yogyakarta disimpulkan bahwa para peternak siap untuk memasuki sistem agribisnis dengan segala kendala, yaitu kesulitan untuk membentuk dan memelihara mata rantai yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.

23.
Judul : Cara menanggulangi penyakit bakterial lele dumbo
Penulis : Rochdianto, Agus.
Sumber : Suara Karya, 8 Feb. 1994. Hal. VII (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993, Hal.115-116)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Lele dumbo (Clarias gariepinus) tergolong lele jenis unggul denganpertumbuhan bongsor. Apabila populasinya tinggi dan luas kolan serta jenis pakan terbatas, lele akan memunculkan sifat kanibalismenya. Keadaan ini membuat kondisi tubuh kurang baik dan terserang bakteri jenis Aeromonas sp dan Pseudamonas sp. Artikel ini menguraikan gejala serangan, gambaran penyakit, dan upaya penanggulangannya.

24.
Judul : Bila lele terserang aeromonas
Penulis : Amri, Khairul.
Sumber : Suara Karya, 2 Des. 1992. Hal.VII (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 113)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Aeromonas merupakan penyakit lele yang ditakuti yaitu bentuk serangan bakteri yang datang tiba-tiba. Artikel ini membahas cara penanggulangan penyakit, yaitu dengan vaksinasi lele sehat, dengan cara merendam lele dalam bak berisi air yang diberi larutan vaksin.

25.
Judul : Ikan lele menyukai pakan pelet
Penulis : Marcel, Rio
Sumber : Suara karya, 25 Jul. 1995. Hal.7 (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 110)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Ikan lele termasuk ikan amnivora, yaitu ikan pemakan segala bahan makanan hewani atau nabati. Beberapa penelitian membuktikan bahwa dengan makan pelet, lele dapat tumbuh cepat bongsor. Uraian dilengkapi dengan laporan pertumbuhan fisik lele, penyediaan pelet, dan cara pemberian makan.

26.
Judul : Analisa usaha pembesaran lele lokal
Penulis : Budiman, Agus. A
Sumber : Trubus, (Des.) 1987: 394 (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 22)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Dalam artikel ini diuraikan rincian analisa usaha pembesaran lele lokal dengan perhitungan dari lahan kurang lebih 1000 m yang dapat dibangun 10 kolam 8 diantaranya seluas 80 m2 dilengkapi dengan saluran air, pematang, rumah jaga, dan gudang. Dari perhitungan investasi dan modal kerja, serta dikeluarkannya biaya tetap dan operasional akan diperoleh keuntungan lumayan.

27.
Judul : Memperoleh benih lele dengan teknik hipofisasi
Sumber : Liptan, No. 017/89/ABT
Penerbitan : Jakarta: PIP Jakarta, Departemen Pertanian, 1989
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : T1-30
Abstrak : Upaya pembenihan dengan cara hipofisasi diuraikan dalam artikel ini. Langkah-langkah yang dilakukan pada hipofisasi adalah persiapan (pemilihan induk, pemeliharaan induk, persiapan kolam, pemasukan induk dan pemberian makanan). Kemudian pembenihan (bahan dan alat, dosis penyuntikan dan cara pelaksanaannya).

28.
Judul : Kolam lele di pekarangan rumah bisa hasilkan keuntungan besar
Penulis : Sairi, Abu
Sumber : Kedaulatan Rakyat, 25 Sep. 1993. Hal. XIV (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 104)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Dalam artikel ini disajikan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai usaha peternakan lele yang bisa menghasilkan keuntungan besar. Diuraikan perawatan lele dan analisis usahanya serta tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

29.
Judul : Kolam tahan retak untuk budidaya lele
Penulis : Sumardi
Sumber : Sinar Tani, 12 Feb. 1994. Hal. V (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993 Hal. 103)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : mudidaya ikan lele dengan memanfaatkan air limbah dilakukan dengan mempersiapkan tempat atau wadah yang memenuhi persyaratan, yaitu tidak mudah retak meski digunakan berulangkali. Diuraikan teknik pemilihan lokasi dan pembuatan kolam tahan retak.

30.
Judul : Membenihkan lele dumbo secara alami
Penulis : Syarifudin, Amir
Sumber : Suara Karya, 2 Sep. 1992. Hal. VII (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 42 )
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Pembenihan lele dumbo secara alami sama dengan pembenihan lele lokal. Uraian pembenihan ini meliputi persiapan kolam, persiapan induk, cara pemijahan serta perawatan benih.
Uraian ini dilengkapi dengan bagan kolam pembenihan.

31.
Judul : Memijahkan lele dumbo sistem cangkringan
Penulis : Warsono
Sumber : Sinar Tani, 23 Mar. 1996. Hal. V (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 28)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Lele dumbo (Clarias gariepinus) dipijahkan melalui 2 cara yaitu cara Hifofisasi dengan menggunakan donor ikan emas yang membutuhkan biaya besar, dan cara cangkringan atau imbas dengan menggunakan ikan emas sebagai perangsang pemijahan di dalam suatu kolam yang besar. Urutan pemijahan cangkringan secara teknis diuraikan pada artikel ini.

32.
Judul : Pembenihan lele model seri dan gendong
Penulis : Budi Santoso, Hieronymus
Sumber : Suara Merdeka, 17 Apr. 1994. Hal. IV (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 40-41)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Diuraikan secara ringkas pembenihan lele model seri dan gendong yang sedang naik daun saat ini. Uraian dimulai dari pemilihan induk lele baik lele jantan maupun betina, bak pembenihan serta proses perkawinan hingga pendederan, yang diperjelas dengan bagan pemijahan.

33.
Judul : Urine wanita hamil merangsang ovulasi ikan lele
Penulis : Kordi K, M.Ghufran H.
Sumber : Pedoman Rakyat, 8 Mei 1994. Hal. IV (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 39)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Diuraikan secara singkat penggunaan urine wanita hamil 1-2 bulan yang dapat merangsang ovulasi lele, yang dikenal dengan nama Human Chrlionic Gonadotropin (Hcg). Alasan penggunaan dan dosis pemberian urine dibahas pada artikel ini.

34.
Judul : Keranjang pemijahan lele
Penulis : Djariah,Abbas Siregar
Sumber : Minggu Pagi,Minggu ke-4 Nop.1995 Hal.8 (dalam : Kumpulan kliping ikan lele, Jakarta,PIP Trubus,1993.Hal.35)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Artikel ini membahas pemijahan lele yang ada di Eropa (pemijahan ikan lele atau channel catfish (ictalurus punctatus dalam keranjang, sedang di Indonesia umumnya pemijahan dalam kolam atau bak.

35.
Judul : Memijahkan lele dengan sistem baterai
Penulis : Prayitno, Gending
Sumber : Pedoman Rakyat, 6 Des. 1993. Hal. IV (dalam: Kumpulan kliping ikan lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 36)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Pemijahan lele sistem baterai cukup murah dalam perawatan maupun pengaturan air, serta tidak memakan tempat. Dalam artikel ini disajikan persiapan pemijahan dan langkah-langkah pemijahan lele.

36.
Judul : Dumbo, lele unggul yang dicari-cari
Sumber : Trubus, (Okt.) 1986. Hal. 202 (dalam: Kumpulan kliping lele. Jakarta, PIP Trubus, 1993. Hal. 14-18)
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Artikel menguraikan hasil penelitian Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Bogor terhadap sifat dan pertumbuhan lele dumbo. Dibandingkan dengan lele lokal, lele dumbo ternyata lebih unggul. Disebutkan lele dumbo lebih peka terhadap aeromonas, dan bibit lele dumbo yang beredar di pasar saat ini terdiri atas hibrida dan benih, yang akan menjadi pertimbangan petani dalam beternak lele dumbo.

37.
Judul : Pendederan ikan lele dumbo
Penulis : -
Sumber : Liptan, No. 3 A/KAN/ER/PSMTP/BIP-SB/94-95
Penerbitan : Padang: BIP Sumatera Barat, Dep. Pertanian, 1994
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : T1-114
Abstrak : Benih lele dumbo pada tingkat awal sangat peka terhadap perubahan kondisi lingkungan dan perlakuan, padahal benih merupakan salah satu sarana penentu dalam usaha meningkatkan produktivitas. Untuk itu ada 3 aspek yang perlu diketahui, yaitu pemeliharaan larva, pendederan pertama yang terdiri dari persiapan kolam, penebaran dan perawatan benih, lalu aspek terakhir adalah pendederan lanjutan.

38.
Judul : Teknik pemijahan ikan lele dumbo
Penulis : -
Sumber : Liptan, No. 3 B/KAN/ER/PSMTP/BIP-SB/94-95
Penerbitan : Padang: BIP Sumatera Barat, Dep. Pertanian, 1994
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : T1-115
Abstrak : Merupakan tulisan singkat sebagai petunjuk pemijahan ikan lele dumbo. Aspek yang dibahas adalah perbedaan lele dumbo jantan dan betina, perawatan induk lele, dan teknik pemijahan. Teknik pemijahan ada dua macam, pemijahan dengan rangsangan putih telur dan pemijahan secara hipofisasi.

39.
Judul : Makanan buatan ikan lele dumbo
Penulis : -
Sumber : Liptan, No. 7/KAN/ER/DIPDA/BIP-SB/93-94
Penerbitan : Padang: BIP, Departemen Pertanian, 93
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : T1-80
Abstrak : Pada rangkaian kegiatan budidaya ikan lele dumbo (C. Gariepinnus) baik saat perawatan induk, pendederan maupun pembesarannya memerlukan penanganan pakan yang berbeda baik jenis, ukuran maupun cara pemberiannya. Brosur ini menyajikan makanan buatan untuk ikan lele dumbo meliputi; pakan untuk pemeliharaan induk (pellet, fermentasi dedak-urea, limbah dapur, kombinasi pakan dan pemberian pakan yang teratur), pakan untuk ikan lele dumbo (benih pada pra-pendederan, pendederan I dan II), serta pakan untuk pembesaran. Dilengkapi dengan gambar ragam macam makanan untuk ikan lele dumbo.

40.
Judul : Pembenihan ikan lele
Penulis : -
Sumber : Liptan, No. 10/IS dan SR/1993-1994
Penerbitan : Aceh: BIP, Departemen Pertanian, 1993
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : T1-78
Abstrak : Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang dapat dipelihara di kolam yang sempit, sawah bahkan di comberan rumah. Pertumbuhan ikan lele cukup cepat dengan daya tahan yang tinggi serta mudah sekali berkembang biak diberbagai lokasi pemeliharaan. Salah satu hambatan yang dirasakan petani di pedesaan adalah kurangnya persediaan benih yang bermutu dan dalam jumlah yang cukup. Petani masih mengandalkan kebutuhan benih ikan lele dari usaha penangkapan alam padahal pembenihan ikan lele dapat dilakukan sendiri. Petunjuk singkat ini menyajikan teknik pembenihan ikan lele untuk kalangan petani yang mencakup; pembuatan dan kontruksi kolam, persiapan kolam dan induk jantan maupun betina, pemijahan, penyapihan serta penanggulangan hama penyakit.
Dilengkapi dengan beberapa gambar dari setiap tahap pembenihan.

41.
Judul : Menyiapkan kolam pembesaran [Lele dumbo]
Sumber : Memelihara lele dumbo di kolam taman, Sri Najiyati, Hal. 8-18
Penerbitan : Jakarta: Penebar Swadaya, 1998
Lokasi Artikel : TTG
Kode Panggil : Lel
Abstrak : Pembudidayaan lele dumbo dapat dilakukan dengan cara intensif dan tradisional. Bab ini menjelaskan langkah-langkahnya antara lain pemilihan lokasi, ukuran kolam, bentuk dan posisi kolam, tahap persiapan dan pembuatan kolam. Tulisan diakhiri dengan tips memperindah kolam. Disertakan gambar dan analisis biaya.


Dokumen lengkap, hubungi :

PDII-LIPI
Telp. 021-7560537
E-mail: pdiiserpong@yahoo.com